Home GUIDE DAN ULASAN GAME Review, SEKIRO : SHADOWS DIE TWICE, Ketika Tenchu dan Dark Souls Bergabung

Review, SEKIRO : SHADOWS DIE TWICE, Ketika Tenchu dan Dark Souls Bergabung

166
0

Berpredikat sebagai game no.4 di Steam nyatanya membuat game ini semakin terkenal dan di gandrungi sebagai game tersukses di tahun 2019 hingga saat ini.

Game tersebut berjudul Sekiro : Shadows Die Twice besutan dari From Software yang sebelumnya terkenal ketika meluncurkan game Dark Souls sebanyak 3 seri.

Game yang awalnya diproyeksikan sebagai seri terbaru Tenchu nyatanya berubah menjadi game yang mempunyai identitasnya sendiri.

Sekiro : Shadows Die Twice berbagi DNA dengan Dark Souls namun dengan pendekatan fitur dan konsep yang berbeda serta gameplay yang unik. Konsep yang dibawa kali ini berpindah dari arsitektur barat yang gothic ke masa peperangan Jepang yang tak kalah epic.

Game ini menghadirkan jalan cerita yang lebih jelas dengan karakter utamanya sendiri dan juga hadir dengan banyak perombakan baru yang membuat tempo permainnnya menjadi lebih cepat dan secara bersamaan menantang.

Berbeda dari seri-seri souls pada game terdahulunya, Sekiro hadir dengan plot cerita yang lebih jelas dan disajikan lewat cut-scene, layaknya game single-player pada umumnya.

Cerita yang dibawa benar-benar jelas sehingga pemain tahu apa yang terjadi, seperti karakter apa saja yang ditemui dan tempat-tempat mana saja yang sudah dikunjungi, namun tetap mempertahankan gaya cerita seperti game Souls dulu.

Game yang satu ini mengambil setting Sengoku di Jepang, saat itu sedang terjadinya perang secara besar-besaran, pemain akan menjadi seorang anak kecil yang tidak bisa membela diri sendiri hingga akhirnya diselamatkan oleh seorang Shinobi bernama Owl.

Owl kemudian membesarkan anak kecil (pemain) itu dan menjadikannya seorang mesin pembunuh yang bertugas untuk melindungi seorang tuan muda bernama Kuro, The Divine Heir. Petualangan pun dimulai dimana pemain akan bertemu lawan-lawan kuat yang ingin membunuh Kuro dan pemain harus melindungi Kuro agar tidak mati.

Dari sinilah jalan cerita akan bergantung sepenuhnya pada aksi yang pemain lakukan. Pemain juga dapat mengeksplor suatu area dan mendapatkan gambaran cerita dari perspektif yang berbeda.

Dengan mengambil konsep yang berbeda ini membuat From Software berhasil menciptakan dunia yang indah namun penuh misteri, hasilnya sangat mengagumkan. Terlihat bagaimana grafik yang dibawa begitu nyata dengan adanya kastil-kastil Jepang yang besar dan meninggi, patung-patung Buddha yang realistis hingga bangunan lain yang dapat ditemukan pada zaman peperangan Jepang dulu dibawa dengan realistis sekali.

Pujian diberikan kepada From Software karena berhasil menjadikan game ini benar-benar layak untuk dimainkan. Dengan membuat Sengoku sebagai kanvas untuk menyuntikkan kisah penuh elemen mistis, magis, dan monster-monster yang sangat menarik, semua hal tersebut dibalut dengan efek visual dan tata cahaya yang sangat memukau.

Gameplay yang dibawa juga sangat menarik dengan membagikannya kedalam pertarungan serta eksplorasi, pemain akan memakai sebuah katana pendek bernama Kusabimaru dan berbagai Trick Tool khusus dari Shinobi Prosthetic. Setiap musuh yang dihadapi pemain juga memiliki pertahanan yang kuat dan sulit ditembus.

Setiap musuh juga kadang memiliki tiga serangan berbeda yang tidak bisa ditangkis. Tiga serangan ini selalu ditandai dengan huruf kanji merah yang muncul tepat sebelum mereka melancarkannya, sehingga pemain akan mempunyai sedikit waktu untuk mengantisipasi serangan yang muncul.

Karena merupakan game single-player maka tentu saja untuk menaklukan game ini tidak mudah, apalagi musuh-musuh yang dihadapi juga tergolong cukup susah, untuk itu From Software memberikan satu fitur unik untuk pemain yaitu kesempatan untuk mati setidaknya 2 kali.

Konsekuensi yang akan diterima pemain ketika mati adalah setengah SEN (mata uang yang digunakan digame) dan EXP yang sudah dikumpulkan akan hilang secara permanen, namun tenang saja memang terdengar tidak adil akan tetapi From Software sudah menyiapkan solusi akan hal tersebut, yakni pemain dapat membeli tas uang dengan harga 10% lebih mahal dari total SEN yang ditawarkan dan memastikan tas uang tersebut tidak akan hilang ketika pemain tewas.

Namun hilangnya setengah EXP dan SEN secara permanen bukanlah satu-satunya konsekuensi yang harus pemain pikul untuk kematian dan Revive yang dilakukan. Sekiro memperkenalkan sebuah fitur baru yang unik bernama Dragonot. Dragonot ini adalah sebuah penyakit dimana pemain sebenarnya menyerap sari hidup dari orang-orang yang sempat bersinggungan dengan pemain setiap kali proses Revive dilakukan.

Jadi karakter-karakter seperti NPC juga dapat terjaring dengan penyakit ini, tetapi tidak akan membuat mereka mati. Penyakit Dragonot ini juga dapat disembuhkan dengan memberikan sebuah item yang mudah ditemukan atau dibeli dengan harga yang terjangkau di berbagai merchant yang ada.

Hideaki Miyazaki sang kreator game ini mengatakan bahwa tingkat kesulitan Sekiro akan sangat bergantung seberapa pintar pemain memainkannya. Hal tersebut ternyata benar adanya karena ada beberapa stage yang akan terasa sangat mudah untuk ditaklukkan jika pemain memakai strategi yang pas.

Namun terlepas dari kehebatan fitur yang dibawa game ini tentu saja tidak akan ada yang sempurna, nyatanya fitur baru penyakit Dragonot disebut kurang intens, para pecinta gaming justru mengingikan bahwa setiap NPC yang terjaring penyakit ini bisa mati sehingga pemain akan benar-benar dihadapkan pada situasi yang krusial dan juga sistem kunci kamera yang terkadang bisa menghilang tanpa alasan yang jelas.

Kedua kekurangan itu tak lantas membuat game ini menjadi sangat buruk, karena menurut Gamezola kelebihan yang dibawanya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menjadi game terbarik sejauh ini di tahun 2019.

Nah apakah sahabat Gamerszola tertarik untuk mencoba game ini? Jangan ragu untuk memberikan tanggapan sahabat di kolom Comment.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here